pengembangan kurikulum

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahh-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah kami yang berjudul “Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum” Keduakalinya Sholawat serta salam tetap tercurah limpahkan kepada beginda Muhammad S.A.W. maklah ini sengaja kami susun dalam rangka pemenuhan tugas kelompok mata pelajaran pengembangan kurikulum , oleh ibu Yulita.
Demikian dari kami, jika ada kekurangan, kami kelompok III sangat minta maaf sekali. Kritik dan saran yang konstruktif kami tunggu.

Malang 15 November 2008

Disusun Oleh:

KELOMPOK III

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A. Apa Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum
1. Apa Prinsip-prinsip Umum Kurikulum
a. Prinsip Relevansi
b. Prinsip Fleksibilitas
c. Prinsip Kontinuitas
d. Prinsip Praktis
c. Prinsip Efektivitas
2. Prinsip-prinsip Khusus Kurikulum
a. Prinsip Berkenaan dengan Tujuan Pendidikan
b. Prinsip Berkenaan dengan Pemilihan Isi Pendidikan
c. Prinsip Berkenaan dengan Pemilihan Proses Belajar Mengajar
d. Prinsip Berkenaan dengan Pemilihan Proses Belajar Mengajar

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum
1. Perguruan Tinggi
2. Masyarakat
3. Sisitem Nilai
C. Artikulasi dan Hambatan Pengembangan Kurikulum
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pendidikan adalah sebagai salah satu upaya untuk mencerdaskan bangsa. Didalam Undang-Undang System Pendidikan Nasional juga disebutkan bahwa Pendiidkan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang mempunyai tujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam hubungannya dengan pendidikan itulah dibentuk suatu aturan tentang materi apa saja yang harus diberikan kepada peserta didik, yang sering kita kenal dengan “Kurikulum”. Dalam hal ini maka Kurikulum harus bisa memberikan bentuk pelayanan yang segar kepada peserta didik agar didapat hasil yang optimal. Untuk itu diperlukanlah suatu pendekatan yang dianggap bisa memberikan pelayanan.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional.Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kurikulum pada KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada SI dan SKL serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Selain dari itu, penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005. Panduan yang disusun BSNP terdiri atas dua bagian. Pertama, Panduan Umum yang memuat ketentuan umum pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan pada satuan pendidikan dengan mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam SI dan SKL.Termasuk dalam ketentuan umum adalah penjabaran amanat dalam UU 20/2003 dan ketentuan PP 19/2005 serta prinsip dan langkah yang harus diacu dalam pengembangan KTSP. Kedua, model KTSP sebagai salah satu contoh hasil akhir pengembangan KTSP dengan mengacu pada SI dan SKL dengan berpedoman pada Panduan Umum yang dikembangkan BSNP. Sebagai model KTSP, tentu tidak dapat mengakomodasi kebutuhan seluruh daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan hendaknya digunakan sebagai referensi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum.
2. Apa Prinsip-prinsip Umum dari Kurikulum
3. Apa Prinsip-prinsip Khusus dari Kurikulum
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum
2. Untuk mengetahui Prinsip-prinsip Umum dari Kurikulum
3. Untuk mengetahui Prinsip-prinsip Khusus dari Kurikulum
4. Untuk mengetahui Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum

Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Dalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan / ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, pengusaha serta unsur-unsur masyarakat lainnya. Rancangan ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalm prosoes pembimbingan pengembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri, keluarga maupun masyarakat.
Kelas merupakam tempat untuk melaksanakan dan menguji kurikulum. Disana semua konsep, prinsip, nilai, pengetahuan, metode, alat dan kemampuan guru diuji dalam bentuk perbuatan, yang akan mewujudkan bntuk kurikulum yang nyata dan hidup. Perwujudan konsep, prinsip, dan aspek-aspek kurikulum tersebut seluruhnya terletak pada guru. Oleh karena itu, gurulah pemegang kunci pelaksana dan keberhasilan kurikulum. Dialah sebenarnya perencana, pelaksana, penilai, dan pengembang kurukulum sesungguhnya. Suatu kurikulum diharapkan memberikan landasan, isi, dan menjadi pedoman bagi pengembangan kemampuan siswa secara optimal sesuai dengan tuntutan dan tantangan masyarakat.

1. Prinsip-prinsip Umum.
Ada bebrapa prinsip umum dalam pengembangan kurikulum. Yaitu:

a. Prinsip Relevansi

Terdapat dua macam relevansi yang harus dimiliki kurikulum, yaitu relevan keluar dan relevansi di dalam kurikulum itu sendiri.relevansi kelura maksudnya maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Apa yang tertuang dalam kurikulum hendaknya mempersiapkan siswa untk tugas tersebut. Kurikulum bukan hanya menyiapkan anak untuk kehidupannya sekarang tetapi juga yang akan datang. Kurikulum juga memiliki relevansi di dalam yaitu ada kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian, dan penilaian. Relevansi intrnal ini menunujukkan suatu keterpaduan kurukulum.

b. Prinsip Fleksibilitas
Kurikulum hendaknya memilih sifat lentur atau fleksibel. Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan tempat lain , bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Suatu kurikulum yang baik berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaanya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak.

c. Prinsip Kontinuitas
Kontinuaitas berarti berkesinambungan. Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau berhenti-henti. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkatn kelas, dengan kelas lainnya, juga antara jenjang pendidikan dan pekerjaan. Pengembangan kurikulum perlu dilakukan serempak bersama-sama, perlu selalu ada komunikasi dan kerja sama antara pengembang kurikulum sekolah dasar dengan SMTP, SMTA, dan Pergurusn Tinggi.

d. Prinsip Praktis
Prinsip keempaat ini adalah praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat sederhana dan biayany juga murah. Prinsip ini juga disebut prinsip efisiensi. Betapapun bagus dan idealnya suatu kurikulum kalau menuntut keahlian-keahlia dan perlatan yang sangat khusus dan mahal pula biayanya, maka kurikulum tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan . kurikulum dan pendidikan selalu diaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan waktu, biaya alat, maupun personalia. Kurikulun bukan hanya harus ideal tapi juga prakis.

e. Prinsip Efektivitas
Walaupun kurikulum tersebut harus murah dan sederhana, tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan. Keberhasilan pelaksanaan kurikulum ini baik secara kuantitas maupun kualitas. Pengembangan kurikulum tidak dapat dilepaskan dan merupakan penjabaran dari perencanaan pendidikan. Perencanaan di bidang pendidikan juga merupakan bagian yang dijabarkan dari kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah dibidang. Keberhasilan kurikulum akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan.

2. Prinsip-prinsi Khusus
Ada beberapa prinsip yang lebih khusus dalam pengembangan kurikulum. Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan penyusunan tujuan., isi, pengalaman belajar, dan penilaian.
a. Prinsip Berkenaan dengan Tujuan Pendidikan
Tujuan menjadi pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek. Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada:
1)Ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah, yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen lembaga negara mengenai tujuan, dan strategi pembangunan termasuk didalamnya pendidikan.
2)Survai mengenai persepsi orang tua / masyarakat tentang kebutuhan meraka yang dikirimkan melalui angket atau wawancara dengan mereka.
3)Survai tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, dihimpun melalui angket, wawancara, observasi dan dari berbagai media massa.
4)Survai tentang manpower
5)Pengalaman negara-negara lain dalam masalah yang sama.
6)Penelitian

b. Prinsip Berkenaan dengan Pemilihan Isi Pendidikan
Memilih isi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhab pendidikan yang telah ditentukan para perncana kurikulum perlu mempertimbangkan bebrapa hal.
1)Perlu penjabaran tujuan pendidikan / pengajaran kedalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederahana. Makin umum suatu perbuatan jhasil belajar dirumuskan semakin sulit menciptakan pengalaman belajar.
2)Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap dan keterapilan.
3)Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sisitematis. Ketiga ranah belajar, yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan diberikan secara simulatan dalam urutan sitausi belajar. Untuk hal tersebut diperlukan buku pedoman guru yang memberikan penjelasan tentang organisasi bahan dan alat pengajaran secara lebih mendetail.

c. Prinsipi Berkenaan dengan Pemilihan Proses Belajar Mengajar
Pemilihan proses belajar mengajar yang digunakan hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1)Apakah metode / tehnik belajar mengajar yang digunakan cocok untuk mengerjakan bahan pelajaran?
2)Apakah metode / tehnik tersebut memberikan kegiatan yang brvariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa?
3)Apakah metode / tehnik tersebut memberikan urutan kegiatan yang betingkat-tingkat?
4)Apakah metode / tehnik tersebut dapat menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitif, afektif dan psikomotor?
5)Apakah metode / tehnik tersebut lebih mengaktifkan siswa, atau mengaktifkan guru atau kedua-duanya?
6)Apakah metode / tehnik tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru?
7)Apakah metode / tehnik tersebut menimbulkan jalinan kegiatan belajar disekoah dan di rumah, juga mendorong penggunaan sumber yang ada di rumah dan di masyarakat?
8)Untuk belajar keterampilan sangat dibutuhkan kaegiatan belajar yang menekankan “ learning by doing” di samping “learning by deeing and knowing”
d. Prinsip Berkenaan pemilihan Kegiatan Penialian
Penilaain merupakan bagian integral dari pengajaran:
1. Dalam enyusunan alat penilaian (test) hendaknya di ikuti langkah-langkah sebagai berikut:
Rumuskan tujuan-tujuan pendidikan yang umum, dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Uraikan ke dalam bentuk tingkah-tingkah aku murid yang dapat di amati. Hubungkan dengan bahan pelajaran. Tuliskan butir-butir test.
2. Dalam merencanakan suatu penilaian hendaknya di perhatikan beberapa hal:
Bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan kelompok yang akan di tesy?
Berapa lama wakatu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan test?
Apakah testn tersebut berbentuk uaraian atau objektif?
Berapa banyak butir test perlu di susun?
Apakah test tersebut diadministrasikan oleh guru atau oleh murid?
3. dalam pengolahan suatu hasil penilaian hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Norma apa yang digunakan di dalam pengolahan hasil test ?
Apakah digunakan formula guessing?
Bagaimnakah pengubahan skor ke dalam skor masak?
Skor standar apa yang digunakan?
Untuk apakah hasil-hasil test digunakan?

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum

1. Perguruan Tinggi
Kurikulum minimal mendapat dua pengaruh dari Perguruan Tinggi. Pertama, dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum. Kedua, dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di Perguruan Tinggi Keguruan. Jelas sekali bahwa teknologi banyak memberikan sumbangan bagi isi kurikulum serta proses pembelajaran. Jenis pengetahuan yang dikembangkan di Perguruan Tinggi akan mempengaruhi isi pelajaran yang akan dikembangkan dalm kurikulum.
Kurikulum Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan juga mempengaruhi pengembangan kurikulum, terutama melalui pengusaan ilmu dan kemampuan keguruan adri guru-guru yang dihasilkan. Penguasaan ilmu, baik ilmu pendidikan maupun bidang studi serta kemampuan mengajar dari guru-guru akan sangat mempengaruhi pengembangan dan implementasi kurikulum di sekolah.

2. Masyarakat
Sekolah merupakan bagian dari masyarakat dan mempersiapkan anak untuk kehidupan di masyarakat. Sebagai bagian dan agen dari masyarakat, sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dimana sekolah tersebut berada. Isi kurikulum hendaknya mencerminkan kondisi dan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat disekitarnya. Masyarakat yang ada di sekitar sekolah mungkin merupakan masyarakat masyarakat homogen atau heterogen, masyarakat kota atau desa, petani, pedagang atau pegawai dan sebgainya. Sekolah harus melayani aspirasi-aspirasi yang ada di masyarakat. Salah satu kekuatan yang ada dalam masyarakat adalah dunia usaha. Perkembngan dunia usaha yang ada di masyarakat mempengaruhi pengembangan kurikulum sebab sekolah bukan hanya mempersiapkan anak untuk hiup, tapi juga untuk bekerja dan berusaha. Jenis pekerjaan yang ada di masyarakat mmenuntutu persiapannya di sekolah.

3. Sisitem Nilai
Dalam kehidupan masyrakat terdapt sistem nilai, baik nilai moral, keagamaan, sosial, budaya maupun politis. Sekolah sebagai lembaga masyarakat juga bertanggung jawab dalm pemeliharaan dan penerusan nilai-nilai. Sisitem nilai yang akan dipelihara dan diteruskan tersebut harus terintegrasikan dalam kurikulum. Masalah pertama yang dihadapai pengembang kurikulum menghadapi nilai ini adalah, bahwa dalam masyarakat nilai itu tidak hanya ada satu. Masyarakat umumnya heterogen dan multifaset. Masyarakat mempunyai kelompok-kelompok etnis, kelompok vokaional, kelompok
intelek, kelompok sosial, spritual dan sebagainya yang tiap kelompok sering memiliki
nilai yang berbeda. Dalam masyarakat juga terdapat aspek-aspek sosial, ekonomi, politik, fisik, estetika, etika, relegius, dan sebgainya. Aspek-aspek tersebut sering juga mengandung nilai-nilai yang berbeda. Ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengajarkan nilai.
1.Guru hendaknya mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat.
2.Guru hendaknya berpegang pada prinsip demokrasi, etis dan moral.
3.Guru berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut ditiru.
4.Guru menghargai nilai-nilai kelompok lain.
5.mamahami dan menerima keberagaman kebudayaan sendiri.
C. Artikulasi dan Hambatan Pengembangan Kurikulum
Atikulasi dalam pendidikan berarti “kesatupaduan dan koordinasi segala pengalaman belajar”. Untuk merealisasikan artikulasi kurikulum, perlu meneliti kurikulum secara menyeluruh, membuang hal-hal yang tidak di perlukan, menghilangkan duplikasi, merevesi metode serta isi pengajaran, mengusahakan perluasan, dan kesinambungan kurikulum. Bila artikulasi dilaksanakan dengan baik akan terwujud kesinambungan pengalaman belajar sejak TK sampai Perguruan Tinggi, juga antara satu bidang studi lainnya secara horizontal. Tanpa artikulasi akan terdapat keragaman baik dalam isi, metode maupun perhatian terhadap perkembangan anak.
Untuk menyusun artikulasi kurikulum diperlukan kerja sama dari bebagai pihak; para administrator, kepala sekolah, TK sampai rektor Universitas, guru-guru dari setiap jenjang pendidikan, orang tua murid dan tokoh masyarakat. Dalam mengusahakan artilukasi kurikulum tersebut murudpun pelu dimintakan pendapatnya tentang hubungan pelajaran yang satu dengan lainnya, hubungan antara satu tingkat dengan tingkat berikutnya. Salah satu hal yang perlu sering dipandang menghambat artikulasi adalah pembagian menurut tingkat belajarnya. Hal itu menyebabkan tersusunnya organisasi mata pelajaran yang kaku. Untuk menjamin kesinambungan belajar bebrapa sekolah menggunakan sistem pendidikan tidak berkelas.

Hambatan-hambatan Pengenbagan Kurikulum
Dalam pengembangan kurikulum terdapat beberapa hambatan. Hambatan pertama trletak pada guru. Guru kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal itu disebabkan beberapa hal. Pertama kurang waktu. Kedua kekurangsesuaian pendapat, baik antara sesama guru maupun dengan kepala sekolah dan administrator. Ketiga karena kemampuan dan pengetahuan guru sediri.
Hambatan lain datang dari masyarakat. Untuk pengembangan kurikulum dibutuhkan dukungan masyarakat baik dalam pembiayaan maupun dalam memberikan umpan balik terhadap sistem pendidikan atau kurikulum yang sedang berjalan. Masyarakt adalah sumber input dari sekolah. Keberhasilan pendidikan, ketepatan kurikulum yang digunakan membutuhkan bantuan, seta input fakta dan pemikiran dari masyarakt.
Hambatan lain yang dihadapi oleh pengembang adalah biaya. Untuk prngembangan kurikulum, apalagi yang berbentuk kegiatan eksperimen baik metode, isi atau sisitem secara keseluruhan membutuhkan biaya yang sering tidak sedikit.

~love is blind~

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: